“Mobil Kotak” Honda Kurang Sukses Di Indonesia

Jakarta, KompasOtomotif – Arah Honda menyesuaikan diri dengan pasar Indonesia telah memicu kelahiran banyak produk baru produksi lokal, namun strategi ini punya konsekuensi. Salah satu model rakitan dalam negeri di pabrik Honda di Karawang, Jawa Barat,  Freed, diputuskan untuk berhenti diproduksi dan tidak lagi dijual di dalam negeri.

Karir Freed di Indonesia dimulai pada 2009, model dengan pintu geser ini merupakan modal Honda Prospect Motor (HPM) masuk ke segmen terbesar, MPV 7-penumpang. Posisinya lebih murah dari model Honda yang selama ini mengisi segmen itu, Odyssey.

Indonesia ditunjuk jadi basis produksi setelah Jepang. Freed diekspor ke berbagai negara di Asia Tenggara, seperti Thailand, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Cerita Freed di dalam negeri berubah sejak MPV 7-penumpang lebih murah, Mobilio, datang dan mulai dijual pada 2014. Sejak tahun itu juga, tren penurunan penjualan Freed mulai terekam. Pada 2013, Freed terjual sekitar 18.000 unit lantas setahun kemudian drop jauh menjadi sekitar 6.500 unit.

Pada 2015 Freed makin terpuruk, catatatannya jadi cuma 3.000-an unit. Pada tahun itu HPM meluncurkan crossover terbarunya HR-V 5-penumpang yang dijual pada rentang harga yang sama seperti Freed, Rp 200 juta – Rp 300 juta.

Tahun ini peluang Freed habis sebab HPM memutuskan produksinya berhenti pada Juni lalu seiring hadirnya crossover kecil BR-V yang muat 7-penumpang.

Jonfis Fandy, Marketing and Aftersales Service Director HPM mengakui Freed kalah saing dengan ketiga produk baru rakitan lokal di pabrik yang sama itu. Keputusan menghentikan produksinya dikatakan karena memenuhi kebutuhan konsumen.

“Konsumen itu enggak pilih, kalau kami lakukan kualitatif survei, iya itu mereka cenderung tidak suka mobil yang kotak,” kata Jonfis.

Honda Honda Freed generasi kedua mulai dijual di pasar Jepang.

Generasi baru

Pernyataan HPM stop produksi Freed datang setelah prinsipal di Jepang menyatakan generasi terbaru Freed bakal dijual September 2016. Pernyataan Jonfis tersirat mengatakan, HPM yang tidak mau beralih memproduksi generasi terbaru itu karena alasan efisiensi.

“Patokannya begini, Honda berapa tahun ini meluncurkan beberapa produk baru. Sebagai salah satu pendorong pasar itu produk baru. Tapi bukan hanya produk baru saja, orang banyak enggak tahu kan, produk baru kenapa bisa sukses. Ada banyak hal yang dilakukan, penambahan orang, penambahan tempat, dan lain sebagainya,” ucap Jonfis.

All-New Freed tidak bakal masuk ke Indonesia sampai HPM berubah pikiran. Skema impor juga bukan pilihan karena Jonfis mengatakan HPM sedang fokus pada model produksi lokal. 

Sumber:

http://otomotif.kompas.com/read/2016/09/30/142242315/.mobil.kotak.honda.kurang.sukses.di.indonesia

Leave a Reply