Menarik Wisatawan Ke Indonesia Terkendala Tak Ada “Direct Flight”

ASTANA, KOMPAS.com – Tidak adanya perairan di Kazakhstan, membuat masyarakat negera yang terletak di Asia Tengah ini haus akan wisata bahari. Sayangnya, dibandingkan ke Indonesia, mereka lebih banyak melancong ke negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand.

Berdasarkan data KBRI di Astana, Kazakhstan, tercatat hanya 10.000 orang masyarakat negara itu yang berkunjung ke Indonesia pada 2015. Padahal, pada tahun yang sama, ada sekitar 75.000 orang Kazakhstan berkunjung ke Thailand dan sekitar 15.000 orang ke Malaysia.

“Bayangkan saja, saya mencoba menaikkan seribu aja setengah mati,” kata Duta Besar RI untuk Kazakhstan Foster Gultom saat menerima rombongan Kementerian Pariwisata di KBRI, Astana, Selasa (28/9/2016).

Padahal, tujuan wisata di Indonesia lebih beragam ketimbang Thailand dan Malaysia. Tetapi, masyarakat Kazakhstan hanya tahu Bali saja. Ini yang menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Indonesia untuk mempromosikan 10 “Bali Baru” dalam program Wonderful Indonesia.

Nursita Sari Pemandangan Danau Toba yang terlihat dari obyek wisata reliji Bukit Doa Tapanuli Bersinar (Taber) di Huta Ginjang, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Foto diambil Jumat (9/9/2016).

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan bebas visa ke 169 negara, termasuk Kazakhstan. Namun, kenaikan jumlah wisatawan dari negara pecahan Uni Soviet ini belum dianggap signifikan.

Direct flight belum ada,” kata Foster membuka salah satu kendala mempromosikan wisata Indonesia di Kazakshtan.

Menurut dia, saat ini, Air Astana (maskapai penerbangan Kazakhstan) sudah membuka penerbangan ke Malaysia dan Thailand. Sementara untuk ke Indonesia, belum ada. Garuda Indonesia pun belum membuka penerbangan ke Kazakhstan.

Tidak adanya penerbangan langsung ke Jakarta, membuat masyarakat Kazakhstan berpikir ulang. Sebab, mereka memperhitungkan masalah waktu dan jalur yang harus dilalui.

“Lewat mana nih, bagaimana jalurnya? Berapa jam? Mereka compare kalau ke Nice (Prancis) lebih dekat dari sini. Atau pergi ke kota air Venicia, lebih dekat. Mereka jadi lebih memantau yang ada di Eropa, atau mereka ke Dubai. Banyak orang sini memilih ke sana,” tutur Foster yang sudah bertugas di Kazakhstan sejak 2012.

Ana Shofiana Syatiri Kepala Bidang Wisata Pengenalan Kementerian Pariwisata Taufik Nurhidayat (kiri) dan Duta Besar Indonesia untuk Kazakhstan Foster Gultom.

Dia berharap Garuda Indonesia berani melakukan gebrakan untuk membuka penerbangan langsung dari Kazakhstan ke Indonesia. Dengan begitu, diharapkan target 12 juta wisatawan pada 2016 dan 20 juta pada 2019 bisa tercapai.

Kepala Bidang Perjalanan Wisata Pengenalan Pasar Asia Pasifik Kementerian Pariwisata Taufik Nurhidayat mengatakan, Kementerian akan mengembangkan 10 destinasi prioritas di luar Bali, namun memiliki standar internasional seperti Bali.

Tempat wisata yang akan gencar dipromokan adalah 10 “Bali Baru” yakni Danau Toba (Sumatera Utara),  Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Mandalika (Nusa Tenggara Barat), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Kepulauan Morotai (Maluku Utara), Kepulauan Seribu (Jakarta), Tanjung Lesung (Banten), Borobudur (Jawa Tengah), Bromo Tengger Semeru (Jawa Timur), dan Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur).

Untuk membantu mempromosikan semua destinasi di atas, Kementerian akan mengundang para tour operator yang siap menjual paket wisata ke destinasi tersebut.

“Kami juga mengundang media yang bertugas membantu mempublikasi melalui tulisan maupun saluran televisi, sosial media, maupun influencer dan endorser yang memiliki banyak pengikut,” kata Taufik.

Di samping itu, kata dia, Kementerian juga berpartisipasi pada event international, melaksanakan kegiatan sales mission, serta mendukung kegiatan-kegiatan festival di dalam dan luar negeri.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/29/070700227/menarik.wisatawan.ke.indonesia.terkendala.tak.ada.direct.flight.

Leave a Reply