Mau Sensasi Masakan Kampung Era 70-an, Datanglah Ke Kafe Rumah Pohon

MEDAN, KOMPAS.com – Sore yang mendung, sepertinya Kota Medan akan diguyur hujan deras. Bersama Rara, aku bergegas menyusuri jalanan padat lalu lintas. Hari ini aku ingin duduk santai di Kafe Rumah Pohon yang baru buka sekitar tiga bulan lalu, menikmati sate rusa.

Membayangkan daging rusa, aku sudah bisa merasakan nikmatnya daging lembut yang dibakar dengan bumbu itu. Ditemani minuman segar pasti makin yahud. Memasuki Jalan Sei Belutu Medan, plang nama Chamil Cake Boutique terlihat, ini lah tujuanku.

Dari luar, tak terlihat ada keramaian, tertutup pagar dan pepohonan yang rimbun. Tapi begitu lewat gerbang, terlihat puluhan kendaraan parkir, terdengar suara denting piring beradu sendok, senda gurau, serta dendang manis yang dimainkan langsung oleh dua laki-laki pemetik gitar dan biola.

Semua aktivitas itu berlangsung di teras dan di dalam rumah kayu dua lantai yang bertengger di sebatang pohon rambutan tua. Lucunya, saat aku kemari, pohon rambutannya sedang berbuah lebat.

Mata disambut deretan bangku dan meja kayu, kursi besi dengan tambahan bantal, deretan kain khas Indonesia seperti batik dan ulos terpajang di tiap sudut dinding.

Ada keramik-keramik kuno, nampan besar dari kaleng yang eksotis menghias salah satu sudut ruang, jejeran rantang-rantang kaleng bertingkat empat warna-warni, piring dan cangkir hijau juga dari kaleng yang menjadi wadah penganan-penganan yang membuat dahi Rara berkerut karena tak pernah kenal.

KOMPAS.COM/MEI LEANDHA Lisa bersama Rara dengan latar para pengunjung Kafe Rumah Pohon di Medan, Sumatera Utara.

Ah, kok aku merasa lagi di kampung atau kembali ke era 70-an, masa kanak-kanak saat berkunjung ke rumah nenek. Pengunjung sedang ramai rupanya. Aku sedikit terkejut, untuk usaha yang masih hitungan bulan, jarang sudah seramai ini.

Mungkin karena nama pemiliknya, Elisa Farah Pane menjadi jaminan bahwa semua sajian akan memuaskan dan terjamin mutunya. Siapa yang tak kenal perempuan ramah ini, dia lulusan Universitas Brisbane jurusan tata boga yang senang membagi ilmunya bagi siapa saja yang ingin belajar.

Hasil buah tangannya adalah kelezatan dan kesempurnaan cita rasa. Aku bukan seorang pemuji ulung, tapi aku mengatakan apa yang sudah kunikmati.

Lisa, begitu dia biasa kupanggil, menyambutku dan mengajak duduk tepat di bawah salah satu daun jendela Kafe Rumah Pohon yang terbuka lebar. Tak pakai basa-basi, mungkin dia tahu aku sudah lapar, dia memberikan menu untuk kupilih.

Tapi karena niat awal ingin merasakan empuknya sate rusa, maka itulah yang kupesan. Minumnya Kalamaci yang enaknya langsung diminum, seger….

“Ini jeruk kasturi, ini lebih ke women drink. Rasanya nano-nano lah, ada asamnya, ada gurih-gurihnya. Kebetulan memang segmen market kita 85 persen perempuan. Pastinya minumannya minuman perempuan, jadi cenderung general drink,” kata Lisa membuka percakapan.

Untuk itu, kopi juga wajib mengikuti arus feminin. Maka jelly coffee, es cappucino, latte art dan avocado coffee menduduki rating atas permintaan. Padahal kopi-kopi yang tersedia cukup banyak macam dengan teknik dan proses pengolahan.

KOMPAS.COM/MEI LEANDHA Suasana di dalam Kafe Rumah Pohon di Medan, Sumatera Utara. Ada pohon rambutan berusia 25 tahun.

“Yang datang ke sini belum penikmat kopi, masih belajar. Kalau ada yang tahu kopi, biasanya pelanggan Anonimo di Amir Hamzah yang cuma pengen ganti suasana,” kata seorang Barista.

Berhubung pesanan belum datang, Lisa mengajakku ke dapur untuk melihat langsung proses penyajian sate rusa.

“Dari segi rasa, dagingnya lebih lembut dari sapi. Tapi ini kan hewan liar, jadi tergantung umur berapa yang didapat, itu berpengaruh juga. Waktu dibeli, kita tidak melihat lagi ukuran dan jenis rusanya. Makanya, untuk sate ini, aku bekerja sama dengan Kambing Guling Rama yang sudah ada di Medan sejak 40 tahun lalu,” tutur Lisa.

Dia bilang, di kafe ini, tidak semua bidang dirinya yang menangani, ada divisi-divisinya. Seperti divisi nasi dan mi goreng, divisi minuman dan kopi, sementara Lisa fokus di dapur yang memproduksi makanan-makanan ala kampung. Sifatnya partner dan sharing profit.

Untuk menu sate rusa, hanya ada tiap Jumat sampai Minggu. Hari biasa diisi sate ayam. Alasannya keterbatasan bahan baku daging rusa yang harus dikirim dari Aceh dan mahalnya ongkos produksi.

“Seporsi sate daging rusa kami jual Rp 50.000. Responnya bagus, padahal aku sudah sempat khawatir karena harganya tinggi. Laki-laki yang banyak menyukai makanan ini,” ucapnya.

Dua tusuk daging rusa bakar dihidangkan bersama lontong atau nasi, saus kacang dan kecap. Daging dibakar ala kebab, ada selipan bawang, tomat dan paprika.

KOMPAS.COM/MEI LEANDHA Paket andalan, daun ubi tumbuk dan sambal gembung rebus bawang Batak di Kafe Rumah Pohon, Medan, Sumatera Utara.

Lisa mengaku tidak ada mitos soal khasiat daging hewan berkaki empat yang lincah ini, hanya saja pastinya lebih sehat dan rendah lemah. Tak lama, dua tusuk daging bakar dengan kawan-kawannya muncul di depan hidung, yah, pesanan sudah tiba.

Waktunya mencicipi. Karena masih panas, aku makan sepotong jagung yang menjadi pelengkap. Setelah itu, mengambil satu tusuk, lalu hap. Potongan pertama masuk ke mulut, menyentuh lidah dan berguling di gigitan, enak! Dagingnya lembut nian, bumbunya pas.

Aku suka menikmatinya dengan kecap saja. Hitungan menit, tak ada lagi yang tersisa. Sepertinya, kalau untuk ukuran perutku, harus pesan tiga porsi ini.

Menyusul pesanan Rara, es krim vanila goreng yang menggunakan mix selai nenas khas buatan Lisa. Manis, segar dan kriuk-kriuk dibayar dengan harga Rp 20.000 se porsinya. Rara yang dimintai komentar bilang enak. Dia heran, es krimnya tidak mencair padahal balutan rotinya digoreng.

Selain ek krim goreng, Lisa bilang juga ada avocado mousse, apple pie dan brownies pakai es krim. “Kalau hari biasa, mulai sore, di sini banyak anak muda. Sama mereka, makanan kampung kurang jalan, sukanya makanan yang nanggung-nanggung, makanan yang gak ngenyangin kali. Atau larinya paling ke nasi goreng sama mi goreng,” ujar Lisa.

Makanan kampung yang masuk makanan berat, peminatnya para emak-emak dan ayah-ayah. Tersedia mulai pukul 11.00 sampai tutup setiap harinya. Sebelum jam 11.00, kita bisa menikmati lontong Medan, misop kampung dan pulut (ketan) pisang goreng.

“Setelah jam 11, daun ubi tumbuk dan arsik ayam masak. Ini menu wajib dan andalan, yang masak langsung dari Sidimpuan orangnya. Kalau kami rahasianya pakai udang dop-dop atau udang kecepe. Tidak pakai bawang dan cabe,” katanya membagi bocoran resep.

KOMPAS.COM/MEI LEANDHA Sate rusa yang lembut dan gurih di Kafe Rumah pohon, Medan, Sumaera Utara.

Daun ubi tumbuk buatannya terdiri dari santan encer, rimbang, kecombrang dan udang. Santan yang tidak begitu kental membuat tidak enek, berpadu dengan warna hijau daun ubi yang tumbuk masih menggunakan lesung.

Soal arsik yang identik dengan ikan mas tapi oleh Lisa diganti ayam, alasannya sederhana, tamunya yang datang kebanyakan kaum ibu yang tidak telaten makan ikan mas yang banyak durinya.

“Idealnya arsik ayam kampung, tapi faktor harga jual dipilih lah ayam potong biasa. Kita ada paket murah meriah, satu paket Rp 35.000 sudah dengan minum. Setiap hari habis, jadi setiap hari baru dan segar,” ujarnya.

Ada paket yang terdiri dari nasi, daun ubi tumbuk, arsik ayam, sambal andaliman, sambal terung telunjuk teri kasar pakai kincung, minumnya juice timun atau es buah. Paket lain dengan komposisi sama, hanya arsik ayam diganti rendang sapi pakai kentang kecil, atau yang lauknya sambal gembung rebus bawang batak.

Kalau tak suka ketiganya, ada paket tanpa daun ubi tumbuk yaitu ayam goreng kalasan, sambal belacan, sambal terung dan lalapan. Semuanya dijamin enak dan wajib nambah, tapi dari ketiga pilihan itu, aku suka paket dengan daun ubi tumbuk dan sambal gembung rebus. Pasti nagih lah!

Tiba-tiba, hujan deras mengguyur bumi. Dingin menyergap, aroma-aroma yang beterbangan menggugah selera, tapi aku sudah cukup kenyang. Lisa datang dengan nampan kaleng yang di atasnya ada dua cangkir dan ceret kecil. “Cake of the day at Kafe Rumah Pohon,” ucapnya sumringah.

KOMPAS.COM/MEI LEANDHA Arsik ayam kreasi Lisa di Kafe Rumah Pohon, Medan, Sumatera Utara.

Hari ini teman minum teh bunga melati adalah bolu marmer. Tapi aku baru saja memesan kopi. Mungkin layak dicoba minum teh dulu sebelum ngopi. “Timpan, wajik dan ombus-ombus itu jodohnya ngopi. Coba tanya anak-anak ini, mana tahu dia ini makanan apa dan dari mana. Tahunya pizza dan ayam goreng cepat saji. Eh, kenapa kita gak buat, bantu lah aku bagaimana caranya supaya anak-anak ini kenal masakan tradisional. Biar pengetahuan mereka bertambah,” ucap Lisa dengan mimik cemas.

Dia rela kafenya dijadikan tempat untuk berdiskusi, bertemu dengan ahli untuk membahas masakan, makanan dan minuman kedaerahan yang nyaris punah. Idenya setiap bulan bertemu dengan sesi-sesi yang berbeda, misalnya bulan ini membahas kuliner khas Batak, kemudian Melayu, Mandailing, dan lainnya.

“Kayak Andaliman itu, tanya anak-anak itu kalau tahu dia apa itu andaliman. Kita buat lah, yok… Supaya tahu mereka. Apa yang bisa kita buat? Aku punya misi edukasi dan sosial, kita punya PR, nanti kalau kita gak ada, mereka tahu apa lagi? Ini juga bagian untuk melestarikan budaya kita,” ujarnya.

Menurut Lisa, langkah awal sudah dilakukannya. Mimpi kehadiran Kafe Rumah Pohon adalah menjadi tempat tersedianya makanan-makanan kampung tapi tidak kampungan. Makanan kampung sering dinilai enak tapi kurang menjaga kebersihan, Lisa tak mau berlaku sama. Dia utamakan kenyamanan dan kebersihan dan terus melakukan pengembangan variasi menu di sana-sini.

Saat ini Lisa fokus dengan masakan Tapanuli, ke depannya dia ingin mencoba menyediakan masakan Aceh dan Melayu. “Pokoknya, sebanyak-banyaknya makanan kampung yang orang sudah banyak gak tahu. Itu yang pelan-pelan aku kerjakan,” katanya tersenyum.

Ditanya apakah dia menghafal semua resep, dia bocorin lagi rahasia dapurnya. “Kalau boleh jujur, aku belajarnya di pasar, dari pedagang. Kutanya-tanya, kalau mau buat ini bumbunya apa, mereka kasih tahu, terakhir ya google lah. Kalau Arsik, aku belajar dari mertua, rendang dari mama, daun ubi tumbuk dari orang kampung yang tinggal di tempat kita,” katanya sambil tertawa.

Satu menu yang ingin dia sediakan dalam waktu dekat ini adalah sambal Tuk-tuk, tapi bahannya susah karena menggunakan ikan Aso-aso. Sekarang, ikan ini digantikan ikan teri kasar.

KOMPAS.COM/MEI LEANDHA Es krim goreng vanila di Kafe Rumah Pohon, Medan, Sumatera Utara.

Ikan Aso-aso adalah ikan gebung yang dikeringkan. Setelah dibakar, ikan ini dikerik, kemudian digiling sama bawan dan cabe. Pas mau dimakan, baru diberi perasan jeruk nipis. Makannya pakai daun rebus saja sudah cukup.

“Berair mulut awak membayangkannya, itulah sambal Tuk-tuk asli. Terus sambal limbat atau bayi lele yang dibakar atau sale. Cuma kadang, mau dijual berapa ini? Ikan sale sekarang harganya Rp 180.000 sekilo. Tapi itulah, tetap misi sosial dan edukasi yang paling atas, biar tahu sejarah masakan-masakan itu,” katanya mengulangi.

Bagi Lisa  tempat sudah tersedia, tinggal menjalin kerja sama ke sekolah-sekolah atau pihak-pihak yang terpanggil dan punya pemikiran sama melestarikan kuliner Indonesia. Mau membagi-bagikan pengetahuan dan ilmunya kepada generasi muda Medan. Kemudian didemonstrasikan, dicicipi bersama dan diingat bersama. Semua orang harus bertanggung jawab menjaga warisan ini sebelum tergerus oleh budaya baru dan asing.

Dulunya Tempat Bermain Cucu

Kafe Rumah Pohon konsepnya adalah kafe keluarga. Awalnya tempat ini adalah halaman luas rumah Lisa yang ditumbuhi banyak pohon aneka jenis. Saat lahir cucu pertama, ayah Lisa punya ide untuk membuat rumah pohon sebagai tempat bermain cucunya.

Dipilih lah pohon rambutan yang saat ini usianya sudah 25 tahun. Kalau rumah pohon baru berumur tujuh tahunan, besarnya sepertiga yang sekarang, masih pakai tangga dan tanpa atap.

“Jadi kalau cucu-cucu camping di rumah pohon, buat api unggun, sambil tiduran memandang langit lihat bintang, berdongeng dan bercerita. Seiring bertambahnya umur, tempat ini lapuk dimakan hujan, mulai tak lakulah rumah pohon si opung ini,” kata Lisa mengenang.

Sebagai seorang pebisnis, Lisa sempat menganggap rumah pohon tak berguna, makan tempat dan buat sempit saja. Namun orang tuanya tidak menginginkan bangunan ini dienyahkan, hingga ada beberapa waktu menjadi terlantar. Sampai muncul ide untuk membuatnya menjadi kafe di 2016.

Mulailah dilakukan renovasi dan penambahan yang tidak banyak mengubah bentuk aslinya. Lalu menentukan namanya yang dikenal saat ini.

KOMPAS.COM/MEI LEANDHA Jelly coffee ala Kafe Rumah Pohon di Medan, Sumatera Utara.

“Awal mau buat kafe, semua orang menjatuhkan semangatku. Susah, jalan satu arah, siapa yang mau nengok, ciut hati awak. Ternyata modal usaha itu tidak hanya makanan enak saja, tempatnya harus lain, orang sekarang gila narsis. Dari awal tidak ada tamu yang pulang tanpa berfoto, ini iklan gratis, kecuali kita sudah terkenal,” paparnya.

Kapasitas kafe untuk lantai dasar yaitu teras bisa menampung 80-an pengunjung saat cuaca baik. Kalau cuaca buruk, ini lah yang sedang dipikirkan Lisa. Karena dia tidak ingin melakukan penambahan yang merusak estetika taman. Kalau di ruang AC muat 35-an orang dan di lantai dua rumah pohon juga 30-an orang.

Buka mulai pukul 10.00 WIB, kalau akhir pekan bisa tutup sampai tengah malam, sepanjang makanan yang dijual masih ada.

“Mungkin akan ada penambahan di sebelah sana. Kalau ada acara-acara besar seperti reuni atau arisan, rekomendasinya ya di sini, teras. Lebih lapang dan luas. Buat yang ingin memulai usaha seperti aku, tipsnya cuma jaga mutu dan SDM,” kata perempuan cantik dan ramah itu.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/10/06/120300927/mau.sensasi.masakan.kampung.era.70-an.datanglah.ke.kafe.rumah.pohon

Leave a Reply