Jadi Viral, Foto Hillary Clinton Dipunggungi Para Pendukung

KOMPAS.com – Hillary Clinton memasuki gedung di Orlando, Florida, AS, akhir minggu lalu, dalam rangka kampanye untuk menyapa para pendukungnya yang telah berkumpul di sana.

Alih-alih menyalami Hillary, para supporter -yang sebagian merupakan wanita- malah memutar badan dan memunggungi calon Presiden AS dari Partai Demokrat itu, seakan di sisi lain ada seseorang yang lebih menarik perhatian.

Hillary pun seolah-olah melambaikan tangan dan menyapa ke punggung para pendukungnya tersebut.

Mereka rupanya hendak menjepret selfie, untuk menunjukkan kehadirannya di acara kampanye. Mereka ingin satu frame dengan Hillary, sang calon presiden yang berdiri di latar belakang.

Kejadian tersebut diabadikan oleh juru foto kampanye Clinton, Barbara Kinney, dan belakangan menjadi viral, beredar luas dan ramai dibicarakan di Twitter.

“Wah, para (anak muda) millenial tampak sungguh membenci Hillary,” komentar salah seorang pengguna Twitter, menyindir perilaku pada pendukung yang malah membelakangi sang calon presiden, berebut foto daripada menjabat tangannya.

“(Inilah) Peralihan narsisme di kehidupan publik,” komentar pengguna Twitter lainnya dengan lebih serius.

Hillary tampak gembira-gembira saja dan berupaya melambaikan tangan sambil tersenyum ke arah puluhan layar (dan kamera smartphone) yang terbentang di hadapannya.

Namun selembar foto kerap tidak menceritakan keadaan sebenarnya saat kejadian. Kinney, si juru foto, mengatakan bahwa Clinton sendirilah yang meminta para pendukung agar menjepret selfie.

“Oke semuanya, mari putar badan dan lakukan group selfie,” kata Kinney mengulangi penuturan Clinton, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Mashable, Selasa (28/9/2016).

Foto tersebut makin viral setelah dijajarkan dengan sebuah foto yang memperlihatkan Hillary pada tahun 2006 silam. Bedanya, foto yang dijepret pada sepuluh tahun yang lalu tersebut tak ada satu pun pendukung yang sibuk berselfie. Mereka justru berebut meminta tandatangan Hillary.

Era smartphone, fotografi mobile, dan selfie

Robert Cornelius/Library Of Congress Foto Robert Cornelius, pelaku pertama selfie di Library of Congress, Washington DC, Amerika Serikat. Foto ini diambil pada 1839.

Selfie alias swa-foto alias memotret diri sendiri sebenarnya sama sekali bukan barang baru. Potret diri pertama sudah ada lebih dari 170 tahun lalu, sejak tahun 1839.

Baca: Sejarah Panjang Selfie dan si Tongkat Narsis

Hanya saja, seiring dengan perkembangan teknologi fotografi digital, semakin banyak orang yang menjepret foto. Terlebih semenjak kamera mulai terintegrasi dalam perangkat mobile seperti ponsel dan tablet.

Memotret dan merekam video kini bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, tanpa harus repot menenteng peralatan kamera yang berat.

Lalu media sosial berkembang luas di internet dan menghubungkan banyak orang sekaligus dalam medium yang sama.

Perpaduan kedua hal ini, yakni kamera di gadget mobile dan media sosial, melahirkan kebiasaan baru berupa foto “selfie” untuk diunggah dan ditunjukkan ke orang lain.

Walhasil, terjadi perubahan perilaku pengguna gadget seperti diilustrasikan dalam rangkaian foto perbandingan di bawah.

Luca Bruno, Michael Sohn/ AP, Barbara Kinney Ilustrasi perbandingan suasana masa kampanye Hillary Clinton pada 2006 dan 2016 (kanan) dan upacara Paus Paulus II tahun 2006 dan Paus Benediktus XVI tahun 2013. Pada 2013 dan 2016, sebagian hadirin sudah sibuk merekam foto dan video dengan gadget ketimbang memperhatikan secara langsung.

Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada Heddy Shri Ahimsa-Putra pernah mengatakan bahwa selfie berkembang karena kian besarnya keinginan manusia untuk menampilkan diri sendiri, sekaligus menegaskan perbedaan dengan orang lain.

Bukan monopoli anak muda

Kebiasaan selfie erat diasosiasikan dengan anak muda yang akrab dengan smartphone dan media sosial.

Tak heran, menurut penelitian Coupofy yang dilakukan terhadap responen muda usia 18-30 tahun di AS pada Februari 2016, sebagian besar anak muda “millenial” ini bergantung pada media sosial, seperti Facebook, Twitter, dan Instagram dalam mendapatkan update informasi.

Penelitian yang melibatkan lebih dari 2.000 responden itu turut mengungkap bahwa 55 persen warga millenial AS mengandalkan smartphone untuk berbagi momen-momen dalam hidup dengan teman dan keluarga.

Namun, kebutuhan untuk selfie sejatinya bukan monopoli kaum muda saja.

Psikolog dan Direktur Media Psychology Research Center, Dr. Pamerla Rutledge, mengutarakan bahwa keinginan memotret, mem-posting, dan mendapatkan likes dari situs jejaring sosial merupakan hal yang wajar pada setiap orang.

“Hal ini sebetulnya sama dengan saat orang mengatakan betapa bagus baju yang kita kenakan. Secara biologis, pengakuan sosial merupakan kebutuhan,” katanya beberapa waktu lalu.

Para figur publik pun kini tak malu-malu menjepret selfie. Masih segar di ingatan betapa selfie bertabur selebriti yang dijepret Ellen DeGeneres di malam penghargaan Oscar 2014 menimbulkan kehebohan di media sosial. (Baca: Selfie Oscar Pecahkan Rekor Twitter Obama)

Presiden AS Barack Obama, keluarga kerajaan Inggris, dan bahkan Paus Fransiskus tak ketinggalan berselfie, untuk diri sendiri atau dengan orang lain yang ingin berfoto bersama.

Smartphone, media sosial, dan selfie telah mengubah perilaku manusia dan menjadi bagian dari kehidupan modern. Seperti yang suatu ketika dikatakan psikoanalis dan ahli filsafat Perancis, Elsa Godart, sekarang memang bukan lagi zamannya minta tandatangan.

Sumber:

http://tekno.kompas.com/read/2016/09/27/13545197/jadi.viral.foto.hillary.clinton.dipunggungi.para.pendukung

Leave a Reply